Menjadi Saudagar di Jalan Allah

Sabtu 24 Oktober 2020

  • BAGIKAN

Aunur Rofiq (Foto: Ilustrasi: Zaki Alfaraby/detikcom)

Jakarta - Rasulullah SAW bersabda,"Sesungguhnya harta itu hijau dan lezat. Maka barang siapa mengambilnya dengan jiwa yg mulia, dia akan mendapatkan keberkahan padanya. Dan barang siapa mengambilnya dengan jiwa yg tamak, dia tidak diberkahi padanya dan bagaikan orang yg makan tetapi tdk pernah merasa kenyang." ( H.R. Al-Bukhari, No. 1472, Kitab Az Zakah ).

Seperti hadits di atas, bahwa mengambil harta dengan jiwa mulia, digunakan untuk kebaikan banyak orang, berbagi manfaat, bukan hanya dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dengan bermewah-mewahan, sebagai bukti status sosialnya. Kepemilikan harta adalah mutlak pada Allah, seseorang hanya sebagai pemegang amanah. Harta ini menjadi penting jika seseorang ingin membantu saudaranya, membantu operasional masjid agar tetap bersih, mengelola anak-anak yatim piatu agar mereka bisa mendapatkan pendidikan yang baik.

Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Saba' : 39 yang artinya, "Katakanlah, 'Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya' Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik."

Sebagai Muslim, berusaha supaya bisa menjadi seseorang yang 'tangan di atas'. Oleh karena itu pilihan menjadi saudagar adalah kenikmatan sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Ada anggapan di masyarakat yang membuat terhalangnya umat Islam berkembang dalam bisnisnya, "Dunia ini adalah surganya orang kafir dan penjara bagi kaum muslimin. Adapun bagian kaum muslimin adalah akhirat nanti, maka bersabar dan menerima saja."

Bahwa dunia diciptakan untuk manusia dan kita diciptakan untuk kehidupan akhirat. Oleh karenanya seyogyanya kehidupan dunia diisi dan disikapi dengan cerdik, agar tidak menjadi objek tapi bertindak sebagai subjek dan selalu tidak meninggalkan kewajiban ibadah. Maka dari itu kehidupan dunia dilandasi dengan tujuan sebagai bekal ibadah.

Mempunyai kesempatan finansial merupakan tujuan setiap muslimin, namun hendaknya tidak terkecoh oleh harta tersebut. Jika harta sebagai landasan dan simbol kesuksesan, ini akan menjerumuskan karena akan menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Kehidupan yang hedonis hendaknya dijauhi, mulailah memikirkan ekonomi, karena kuantitas peran umat Islam dalam perekonomian di negeri ini sepertinya masih bisa perlu ditingkatkan kuantitasnya perannya dalam perekonomian. Kebutuhan pangan, perawatan kesehatan dan lainnya untuk kehidupan merupakan potensi pasar yang sangat besar. Mulailah bersatu dalam memproduksi dan bersatu dalam memenuhi kebutuhan, sehingga perputaran usaha akan mendorong dan menciptakan kelas menengah umat Islam baru.

Kemampuan ekonomi umat Islam ini tentu diimbangi dengan semakin tingginya keyakinan bahwa harta tersebut hanya sebagai titipan yang diamanahkan, sehingga menjadikan jauh dari sifat kikir, justru menjadi lebih mengutamakan orang lain, berderma dan bersedekah. Outputnya, kemiskinan menjadi jauh berkurang. Kehidupan sosial makin membaik dengan sikap saling tolong menolong dan saling menghormati.

Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya." ( H.R. Imam al-Bukhâri dan Muslim).

Hadits ini hendaknya menjadi visi setiap muslimin seperti yang telah dicontohkan oleh sahabat Rasulullah yaitu Ustman bin Affan dan Abdurachman bin Auff. Keduanya sebagai saudagar yang tidak segan menginfakkan hartanya untuk perjuangan di jalan Allah.

Meraih keberhasilan dalam berbisnis (mencari rezeki) adalah perintah Allah yang harus dikerjakan, seperti dalam firman Allah SWT. "Apabila telah ditunaikan shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah (rezeki) karunia Allah dan ingatlah kepada Allah sebanyak-banyaknya agar kamu mendapat keberuntungan." (Q.S. al-Jumu'ah : 10)

Semoga dalam masa mendatang muncul pengusaha-pengusaha muslim yang tindakannya bisa mencontoh kedua sahabat Rasulullah.

Aunur Rofiq
Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )
Sekjen DPP PPP 2014-2016
Ketua Bidang Pengembangan Koperasi dan Kewirausahaan DPP PPP 2016 - 2021

  • BAGIKAN

Berita Lainnya

Edit Profil Sign Out

KARTU TANDA ANGGOTA

PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

No. KTA

3171.01.27061979.01.001

Nama

Arya Permana Graha

NIK

This is dummy copy

Jabatan Struktural

Jabatan Non Struktural

Tempat Lahir

Bukit Tinggi, Sumatera Barat

Tanggal Lahir

20 Januari 1965